Aku hampir saja berhenti melangkah. Beristirahat pada tempat dimana tak ada siapa siapa. Bersendiri saja untuk mengingat hal apa saja yang sudah aku lewati. Menyegarkan lagi isi hati yang sudah terlalu sering merasa sedih. Berteman dengan alam, senja, dan suasana rooftopnya. Aku suka ditempat itu aku bisa bercerita tentangnya pada senja yang entah keberapa kali aku melihatnya.
Tentang perasaan yang salah. Setiap orang pernah merasakan jatuh dan tak ada seorangpun yang ingin merasakannya lagi. Semudah itu Tuhan mengejutkanku dengan kedatanganmu yang ternyata hanya untuk menjatuhkan hatiku. Aku hanya percaya jika semua akan tiba pada waktunya. Termasuk bagaimana kita pada akhirnya. Bersatu atau justru sebaliknya?
Di kehidupan nyata aku memang diam, tak banyak bercerita. Aku lebih suka bedialog dengan Tuhan. Dan senja perantaranya.
Sore itu misalnya...
![]() |
| “Sunsets are my escape into the reality I want to continuously live.” |
Pada senja aku ingin bertanya "kita menatap langit yang sama" Mungkinkah kita melihat senja diwaktu yang sama ? Entahlah aku tak ingin memikirkannya. Yang jelas aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama meski dengan orang yang berbeda.
Bukankah terkadang ketidaktahuan itu terasa mendamaikan ? tanpa terusik perihal jawaban yang menyakitkan. Karena mungkin jika Tuhan tak mau kita bersatu hati yang paling terluka adalah hatiku.
Dunia penuh kemungkinan, seseorang yang sangat kamu benci bisajadi dulu adalah orang yang sangat kamu cintai dan begitu sebaliknya. Sekali lagi rasa tetaplah rasa. Ia tak bisa dipaksa.
Bagaimana jika yang aku rasa adalah hal yang tidak pernah kau rasakan ? Atau justru sebaliknya. Sebab manusia tidak ada yang tau perihal hatimu kan ?
Sederhana saja, aku ingin bijak menyambut rasa dengan menyebut namamu dalam doa.
Your secret admirer

Tidak ada komentar:
Posting Komentar