Tak ada sesuatu yang diciptkan didunia ini dengan sia-sia. Daun yang kering, sampah di selokan yang membuat muntah pun tak luput dari panndangan Tuhan. Aku ada didunia ini tidak secara kebetulan. Aku percaya Tuhan punya rencana terindah untuk hidupku, meski tidak sekarang aku merasakan itu. Tuhan, kalau boleh mengadu pantaskah aku mengeluh ? Atas apa yang sudah Engkau berikan padaku ? Bahkan aku cukup tau bagaimana penderitaan orang-orang yang lebih parah dariku.
Aku hidup di dua tempat yang sangat berbeda latar belakangnya. 1 tempat dimana kental dengan ajaran agamanya dan 1 tempat dimana sangat fanatik dengan dunianya. Sulit memang jika harus fokus ke 2 arah. Ada hal-hal yang harus kamu korbankan di salah satunya.
Aku hidup di dua tempat yang sangat berbeda latar belakangnya. 1 tempat dimana kental dengan ajaran agamanya dan 1 tempat dimana sangat fanatik dengan dunianya. Sulit memang jika harus fokus ke 2 arah. Ada hal-hal yang harus kamu korbankan di salah satunya.
Sebut saja saat kuliah, aku benar-benar kehilangan diriku.
Siang itu terik matahari terasa menusuk tulangku, ditambah suasana ricuh dikelas, mereka yang tertawa lepas tak lantas membuat aku larut dalam suasana itu. Dan seolah kehilangan jati diri. Seakan benar benar sendiri, Bahkan aku sudah akrab dengan kata sepi. Bukan karena tidak ada yg menemani, tapi karena aku tidak nyaman dengan situasi ini. Seandainya aku boleh memilih pergi, seandainya Ini bukan kewajiban yg harus aku jalani.
Satu, aku hanya butuh satu saja teman yg bisa mengerti, memahami, dan peduli. Bahkan hanya dengan pertanyaan "sudah sembuh kah ?" "kamu bolos lagi?" "rizki kenapa ?" "kamu sakit apa ?" "jangan lupa belajar ya" "hati-hati dijalan ya"
Siang itu terik matahari terasa menusuk tulangku, ditambah suasana ricuh dikelas, mereka yang tertawa lepas tak lantas membuat aku larut dalam suasana itu. Dan seolah kehilangan jati diri. Seakan benar benar sendiri, Bahkan aku sudah akrab dengan kata sepi. Bukan karena tidak ada yg menemani, tapi karena aku tidak nyaman dengan situasi ini. Seandainya aku boleh memilih pergi, seandainya Ini bukan kewajiban yg harus aku jalani.
Satu, aku hanya butuh satu saja teman yg bisa mengerti, memahami, dan peduli. Bahkan hanya dengan pertanyaan "sudah sembuh kah ?" "kamu bolos lagi?" "rizki kenapa ?" "kamu sakit apa ?" "jangan lupa belajar ya" "hati-hati dijalan ya"
Oh god, pantaskah aku mengeluh atas apa yang sudah engkau berikan padaku.
Mereka hanya sebagian batu kerikil yang merintangi jalanku menuju tempat yang kau ciptakan untukku, untuk menggapai impianku.
Bukankah lebih baik menangis karena dosa dibanding mengingat semua kelakuan mereka. Aku diam karena aku sadar air mata ini terlalu berharga jika jatuh dengan percuma. Aku diam bukan karena aku lemah, tapi sadar bicara pun seolah percuma. Perlukah aku menceritakan semua keluh kesahku disini ? Kurasa tidak. Maybe cukup aku dan Tuhan yang tau. Tidak sekalipun aku meminta belas kasihan dari kalian. Dan lagi, aku memilih diam karena aku tau beberapa orang hanya ingin tau apa masalahmu tanpa tau bagaimana perasaanmu.
Bukankah lebih baik menangis karena dosa dibanding mengingat semua kelakuan mereka. Aku diam karena aku sadar air mata ini terlalu berharga jika jatuh dengan percuma. Aku diam bukan karena aku lemah, tapi sadar bicara pun seolah percuma. Perlukah aku menceritakan semua keluh kesahku disini ? Kurasa tidak. Maybe cukup aku dan Tuhan yang tau. Tidak sekalipun aku meminta belas kasihan dari kalian. Dan lagi, aku memilih diam karena aku tau beberapa orang hanya ingin tau apa masalahmu tanpa tau bagaimana perasaanmu.