Jumat, 25 Mei 2018

Pantaskah aku mengeluh ?

  Tak ada sesuatu yang diciptkan didunia ini dengan sia-sia. Daun yang kering, sampah di selokan yang membuat muntah pun tak luput dari panndangan Tuhan. Aku ada didunia ini tidak secara kebetulan. Aku percaya Tuhan punya rencana terindah untuk hidupku, meski tidak sekarang aku merasakan itu. Tuhan, kalau boleh mengadu pantaskah aku mengeluh ? Atas apa yang sudah Engkau berikan padaku ? Bahkan aku cukup tau bagaimana penderitaan orang-orang yang lebih parah dariku.

  Aku hidup di dua tempat yang sangat berbeda latar belakangnya. 1 tempat dimana kental dengan ajaran agamanya dan 1 tempat dimana sangat fanatik dengan dunianya. Sulit memang jika harus fokus ke 2 arah. Ada hal-hal yang harus kamu korbankan di salah satunya.
Sebut saja saat kuliah, aku benar-benar kehilangan diriku.

  Siang itu terik matahari terasa menusuk tulangku, ditambah suasana ricuh dikelas, mereka yang tertawa lepas tak lantas membuat aku larut dalam suasana itu. Dan seolah kehilangan jati diri. Seakan benar benar sendiri, Bahkan aku sudah akrab dengan kata sepi. Bukan karena tidak ada yg menemani, tapi karena aku tidak nyaman dengan situasi ini. Seandainya aku boleh memilih pergi, seandainya Ini bukan kewajiban yg harus aku jalani.

  Satu, aku hanya butuh satu saja teman yg bisa mengerti, memahami, dan peduli. Bahkan hanya dengan pertanyaan "sudah sembuh kah ?" "kamu bolos lagi?" "rizki kenapa ?" "kamu sakit apa ?" "jangan lupa belajar ya" "hati-hati dijalan ya"
Oh god, pantaskah aku mengeluh atas apa yang sudah engkau berikan padaku.
Mereka hanya sebagian batu kerikil yang merintangi jalanku menuju tempat yang kau ciptakan untukku, untuk menggapai impianku.

  Bukankah lebih baik menangis karena dosa dibanding mengingat semua kelakuan mereka. Aku diam karena aku sadar air mata ini terlalu berharga jika jatuh dengan percuma. Aku diam bukan karena aku lemah, tapi sadar bicara pun seolah percuma. Perlukah aku menceritakan semua keluh kesahku disini ? Kurasa tidak. Maybe cukup aku dan Tuhan yang tau. Tidak sekalipun aku meminta belas kasihan dari kalian. Dan lagi, aku memilih diam karena aku tau beberapa orang hanya ingin tau apa masalahmu tanpa tau bagaimana perasaanmu. 

Jumat, 18 Mei 2018

If you know why ?

  Waktu yang terus berlalu membuatku harus bangkit dari masa lalu. Entah pada senja ke berapa akumulai hidup dalam kebenaran yang enggan diucapkan. Aku memang tak mahir bersandiwara. Tapi aku tau caranya berpura-pura, bahagia misalnya.

  Ya...yang terpenting adalah bahagia. Terserah jika dengan berpura-pura bahagia adalah kebahagiaanku. Terserah jika membunuh bahagia adalah kebahagiaanku. Yang penting adalah kalian tau bahwa "Aku Bahagia" meski tidak dengan kenyataannya.

  Bagaimana tidak ? Seandainya aku boleh berkata "hidup dalam keterpaksaan memang menyedihkan". Melakukan hal yang tidak ingin kamu lakukan itu hal yang biasa. Tapi apa kamu pernah merasakan saat kemauan berjalan dengan keterpaksaan. Hal yang seharusnya kamu impikan menjadi tidak ingin kamu lakukan.

  Entahlah yang jelas aku percaya bahwa akan ada saatnya aku menjadi manusia paling beruntung. "there will be when i can laugh freely and you are the reason".
   
To : my parents
Did you know that mu spirit is you. Then, why do you make the hope slowly perish. I dont know if only i can feel it.
Wich obviously i will continue to smile in front of everyone and say " i am happy"

Kamis, 17 Mei 2018

About my second mother

     Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua sebutan untuk orang yang merelakan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan anak orang lain. Dengan rasa bahagia pula.
    Aku bisa bercerita karena aku memiliki. Aku memiliki dia, ya... Walaupun tidak kupanggil dia ibu, tapi dia adalah ibu kedua bagiku. Dia adalah ibu dari dua sepupu laki-lakiku.
      Hal yang biasa dilakukannya kepada anak-anaknya juga dilakukan padaku, juga kepada kakakku. But, biar bagaimanapun ibu tetap ibuku. Ya walaupun tak banyak memori yang aku buat bersamanya. 
       Tentang ibu 
     Karena ketika kata itu terucap dari seseorang kepadaku. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bagiku ibu adalah sosok yang kuat dan tangguh. Dia yang melahirkanku.
       Lantas bagaimana dengan sosok ibu keduaku ? Seseorang yang merawat dan membesarkanku, memang bukan dia yang membiayai sekolahku atau kehidupanku. Setidaknya dia membagi kasih sayang yang diberikan kepada anak-anaknya juga dia berikan padaku. Yang jarang diberikan ibu kepadaku.

Salahkah jika aku juga menyebutnya ibu keduaku ?


Jumat, 11 Mei 2018

You will never know if you never try

  Manusia memang tidak ada yang sempurna. Manusia tempatnya salah dan dosa. Aku kamu kita semua pernah salah, entah itu suatu kebetulan atau bahkan sesuatu yang telah direncanakan. Mulai dari hal kecil, sederhana, sampai hal yang tidak bisa dicerna oleh pikiran kita. Ada yang menyikapinya biasa, ada pula yang menganggap itu suatu masalah. Memang manusia mudah menebak-nebak lagi mudah terburu-buru menyimpulkan sesuka hatinya. Yaudalah yaa jalani saja alurnya dengan versi terbaik kita.

  Dan lagi prinsipnya "yang penting tau batas dan ga kelewat batas". Melakukan hal yang kita tau itu salah itu memang hal yang bodoh. Yah anggap saja itu sebuah hiburan... Means teguran. But, Ya ga seru aja sih kalau hidup kalian flat-flat aja. You will never know if you never try. Tuhan ga akan ngasih kamu yang baik sebelum kamu belajar dari yang buruk. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Dari kesalahan juga kita bisa belajar arti kedewasaan.

  Intinya nikmati saja prosesnya dan berikan senyum terindah. Saat semua orang menganggapmu salah ada Tuhan yang selalu setia kapapun siap mendengar keluh kesah kita.

    Thanks for malam sabtu kau cukup membuatku merasa malu.